post-image

Bagaimana Kedudukan Al Qur'an di Hatimu

Ditulis dan disadur oleh: Asriani binti Mardinal, Mustawa Tsaani 2023.

 

Segala puji bagi Allaah ﷻ yang telah menurunkan Al-Qur’an petunjuk bagi umat manusia. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullaah ﷺ, beserta keluarganya, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Nikmat Allaah ﷻ yang sangat besar atas umat manusia adalah diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi yang diutus sebagai Nabi terakhir dari ummat ini. Dengan Al-Qur’an kita memiliki kejelasan tuntunan hidup dan tujuan hidup, sehingga kita tidak tersesat dari jalan yang benar. Karena Allaah ﷻ menurunkan Al-Qur’an kepada ummat-Nya yang bertaqwa yang akan menjadikannya pedoman hidupnya.

Sebagai seorang Muslim yang hidup di akhir zaman, sudah selayaknya kita memperkokoh keimanan kita dengan mempelajari firman-firman Allaah ﷻ yang dituliskan di dalam Al-Qur’an. Seberapa besar kita mencintai Al-Quran, hanya bisa dirasakan dengan seberapa butuh kita terhadapnya. Mari kita periksa kadar kecintaan kita terhadap Al-Qur’an dengan indikator dibawah ini:

Mengetahui Al Qur’an

Apa itu Al-Qur’an? Dialah Al-Qur’an yang agung yang sejalan dengan kebijaksanaan Allaah ﷻ , tidak ada lagi di dunia ini wahyu Ilahi selain dia setelah lenyapnya atau bercampurnya kitab-kitab samawi terdahulu dengan ilmu-ilmu lain yang diciptakan manusia, adalah petunjuk hidayah, konstitusi hukum, sumber system aturan Tuhan bagi kehidupan, jalan untuk mengetahui halal dan haram, sumber hikmah, kebenaran dan keadilan, sumber etika dan akhlak yang harus diterapkan untuk meluruskan perjalanan manusia. (Tafsir Al -Munir, Wahbah az-Zuhaili).

Firman Allaah ﷻ dalam surah An Nahl (16): 89:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ تِبْيَـٰنًۭا لِّكُلِّ شَىْءٍۢ وَهُدًۭى وَرَحْمَةًۭ وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ٨٩

Artinya: Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Agama yang diturunkan Allaah ﷻ adalah Islam, dan Allaah ﷻ turunkan agama melalui kitab-Nya yaitu Al-qur’an. Maka Al-Qur’an itu harus sempurna, tidak boleh ada cacatnya. Bukti kebenaran Al-Qur’an adalah Bahasa Arab yang digunakan dan disambut dengan ayat-ayat yang tidak familiar ditulis oleh manusia.

Mengenal Al Qur’an

Apakah kita sudah mengenal Al-Qur’an? Mengetahui Al-Qur’an bukan berarti sudah mengenalnya, apalagi memahaminya. Karena banyak dari kita yang tahu Al-Qur’an adalah kalam Allaah ﷻ, namun tidak berusaha untuk berdekatan dengannya.

Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan Allaah ﷻ dengan Bahasa Arab melalui Malaikat Jibril kepada Nabi yang mulia Muhammad ﷺ yang berbahasa Arab. Allaah ﷻ memberitahukan sesuatu kepada manusia dengan bahasa karena bahasa itu akan mengekspresikan seseorang lebih baik ketika bahasa yang digunakan baik. Semakin banyak kosakata yang digunakan seseorang dalam berbahasa, maka akan semakin baik pemahamannya terhadap sesuatu.

Bahasa Arab adalah Bahasa dengan kosakata terbanyak dan menjadi Bahasa terbaik setelah turunnya Al-Qur’an, karena itu, semakin baik seseorang dalam memahami Bahasa Arab akan semakin baik pula ia dalam memahami agamanya, karena baiknya Bahasa adalah kunci agama.

Al-Qur’an mempunyai sejumlah nama, antara lain: Al-Qur’an, Al-Kitab, Al-Mushaf, An-Nuur, dan Al-Furqaan.

Abu Ubaidah berkata, dinamakan Al-Qur’an karena ia mengumpulkan dan menggabungkan surah-surah. Dinamakan Al-Kitab yang artinya pengumpulan, karena dia mengumpulkan (berisi) berbagai macam kisah, ayat, hukum, dan berita dalam metode yang khas. Dinamakan al-Mushaf, dari kata ash shofa yang artinya mengumpulkan shuhuf (lembaran-lembaran) di dalamnya. Dinamakan an-Nuur (Cahaya) karena dia menyingkap berbagai hakikat dan menerangkan hal-hal yang samar (soal hukum halal-haram serta tentang hal-hal ghaib yang tidak dapat dipahami nalar) dengan penjelasan yang absolut dan keterangan yang jelas. Dinamakan al-Furqaan karena ia membedakan antara yang benar dan yang salah, antara iman dan kekafiran, antara kebaikan dan kejahatan.

Ayat yang pertama kali turun adalah firman Allaah ﷻ dalam surah al-Alaq: 1-5:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ١خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِنْ عَلَقٍ ٢ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ٣ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ٤عَلَّمَ ٱلْإِنسَـٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ٥

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dan ayat terakhir yang turun menurut pendapat terkuat adalah firman Allaah ﷻ dalam surah Al Baqarah: 281:

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًۭا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍۢ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ٢٨١

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Apa kewajiban kita terhadap Al-Qur’an?

  1. Beriman bahwa al-Qur’an adalah firman Allaah ﷻ yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kandungan isinya tidak menyerupai perkataan seorangpun dari makhluk-Nya. Dan tidak satupun diantara makhluk-Nya yang sanggup membuat sesuatu yang serupa dengannya.
  2. Membacanya dengan baik dan benar, serta disertai kekhusyukan.
  3. Mengagungkannya dengan cara memahami serta mengamalkan petunjuk-petunjuknya dengan cara memahami berdasarkan penjelasan Rasulullaah ﷺ dan melalui pemahaman as-Salafus Shalih.

Mencintai Al Qur’an

Cinta? Apa itu cinta? Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa hakikat cinta adalah tentang pengetahuan dan penemuan. Di mana cinta akan tergambar, ketika kita mengetahui dan menemukan sosok atau sesuatu yang disukai atau ingin dicintai. Perasaan cinta dari seseorang juga tergantung pada pengetahuan yang dia miliki tentang sosok atau hal yang dimaksud.

Bagi kita yang sudah mengetahui dan mengenal Al-Qur’an, pasti akan tumbuh rasa cinta dihatinya terhadap Al-Qur’an. Seorang yang mencintai Al-Qur’an dan mengimaninya, juga punya tanggung jawab terhadapnya yaitu:

  • Tilawah (Membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar)
  • Tafsir (Mengkaji/memahami)
  • Tathbiq (menerapkan/mengamalkannya)
  • Tabligh (Menyampaikan/mendakwahkannya)
  • Tahfidz (Menghafal)

Membutuhkan Al Qur’an

Jika sudah cinta, maka kita pasti akan merasakan rindu. Rindu jika tidak bertemu, rindu jika tidak membukanya, rindu jika tidak membacanya, rindu jika tidak mentadaburinya, dan rindu juga jika tidak menyampaikan kandungannya walaupun hanya 1 ayat.

Rasa rindu itu membuat kita menjadikan Al-Qur’an sebagai kebutuhan, sehingga tidak akan ada hari-hari kita tanpanya. Tidak akan terlewat hari tanpa membacanya. Tidak akan cukup waktu untuk memahami kandungan ayatnya. Dan mungkin tidak akan pernah selesai kita mempelajarinya, bahkan sampai nyawa lepas dari raga kita.

Akhirul kalam, mari kita renungkan keseharian kita dengan Al-Qur’an, seberapa sering kita berinteraksi dengannya dalam keseharian kita? Semoga tulisan yang sedikit ini, akan membuat kita merenungkan kedudukan Al-Qur’an di dalam hati kita. Jangan sampai kita mengaku Islam, namun tidak sedikit pun kita paham kenapa harus membacanya, kenapa harus mempelajarinya, kenapa harus mentadaburinya, kenapa harus mendakwahkannya, dan kenapa harus menghafalnya. Dan jangan biarkan Al-Qur’an menjadi berdebu karena kita tidak pernah membacanya…

 

جَوْدَةُ اللُّغَةِ مِفْتَاحُ الدِّينِ

Bagusnya bahasa adalah kunci agama.

 

Pustaka:

  • Tafsir Al-Munir, Wahbah az-Zuhaili
  • Agar Sehafal Al-Fatihah, Arham bin Ahmad Yasin, Lc, MH, Al-Hafidz
  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir