post-image

Mengatasi Sikap Menunda-Nunda

Oleh Nabella Septiriani, Mustawa Robi'
Pernahkah Teman-teman, didera rasa malas atau sulit untuk bersegera melaksanakan amal kebaikan atau menunda-nundanya? Dan kita baru  menyesali akibatnya setelah kita mengalami kerugian dari menunda pekerjaan tersebut. Lalu apa sih tipsnya, agar kita tidak terjerumus pada kegiatan menunda amal atau supaya kita tidak dihinggapi rasa malas dalam beramal? Yuk simak artikel berikut.

Di dalam Islam malas adalah sesuatu yang dianggap penyakit. Sesuatu yang akan menghalangi kita untuk mendapatkan kebaikan yang boleh jadi kebaikan tersebut sudah ada di hadapan kita, atau sudah dijanjikan akan diberikan kepada kita. Akan tetapi, karena kita tidak melakukannya dengan segera, tidak berusaha untuk menjemput kebaikan itu dengan segera, akhirnya kebaikan itu menjauh atau bahkan hilang sama sekali dari kehidupan kita. Tentu kita tidak menginginkan seperti itu.

Maka, kita harus mengetahui apa yang menjadi penyebab kita menunda amal tersebut atau apa yang membuat kita tidak semangat atau malas dalam bersegera dengan amal tersebut. Supaya kita bisa mengantisipasi ataupun kita bisa mencari solusi yang cocok sebagai obat untuk mengobati penyakit malas tadi.

Ada beberapa hal yang akan mempengaruhi rasa malas atau hadirnya rasa tidak semangat pada diri kita ketika beramal kebaikan yang akan dirangkum pada empat poin.

  1. Orang tidak bersegera atau malas untuk melakukan suatu amal karena tidak mengetahui hakikat dari amal tersebut. Bisa jadi suatu amal tertunda dikarenakan amal tersebut dianggap biasa atau sama dengan amal yang lain sehinggal muncul pemikiran bahwa kita boleh memilih amal yang ingin kita lakukan saja bukan memilih amal yang memang harus segera kita kerjakan.
  2. Kurang memahami urgensi dari pelaksanaan amal tersebut. Bagaimana kita bisa bersegera melaksanakan suatu amal jika tidak mengetahui bahwa amal tersebut urgent untuk dilakukan dengan segera. Dalam kaidah amal, amal perbuatan manusia terikat dengan lima status hukum; salah satunya wajib; di mana kalau kita lakukan di balik amal itu ada pahala dan kebaikan yang besar berlimpah dan ada kasih sayang Allah. Namun karena ketidaktahuan kita akan status amal tersebut, maka tidak ada dorongan yang kuat untuk kita melakukannya. Bahkan ada orang yang biasa saja ketika mengabaikan sebuah amal yang padahal amal tersebut sifatnya wajib, menuntut ilmu Islam contohnya.
  3. Boleh jadi seseorang sudah menyadari betul urgensi dari melaksanakan amal tersebut. Akan tetapi ketika subjeknya tidak memahami bagaimana cara melakukan amal tersebut, maka bukan tidak mungkin amal tersebut akan tertunda untuk dilakukan atau muncul rasa malas untuk melakukannya.
  4. Tidak kalah penting yaitu ketika seseorang menderita rasa malas ataupun ingin menunda pekerjaan karena sedang mendapat ujian dari Allah Subhanahu wata'ala terkait dengan kehidupannya. Bisa jadi ujian tersebut dari dalam diri kita, kita sedang didera sakit maupun rasa letih yang sangat, dan sangat wajar jika rasa malas itu muncul. Atau aktivitas pada hari tersebut sangat menumpuk sehingga mudah sekali muncul rasa malas karena melihat tugas-tugas yang sangat banyak lebih dari biasanya. Karena tidak sedikit orang yang dihadapkan dengan banyaknya pekerjaan kemudian timbul rasa malas sehingga ada niat untuk menunda pekerjaan tersebut. Padahal boleh jadi ada pekerjaan baru yang akan muncul ditambah dengan pekerjaan yang tertunda tadi sehingga pekerjaannya akan semakin banyak.

 Lalu bagaimana cara kita menghindarkan diri dari rasa malas tersebut atau niat untuk menunda pekerjaan?

Malas bukan hanya sekedar ditolerir atau dimaafkan. Akan tetapi harus segera diselesaikan merujuk pada penyebab rasa malas tersebut. Sehingga yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengenal apa penyebab rasa malas atau niat menunda pekerjaan tersebut.

  1. Yang pertama adalah mengenal hakikat amal kita dengan memahami tujuan hidup kita di dunia ini. Sebagaimana tertulis dalam Surah Adz Zariyat ayat 56 bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wata'ala menciptakan kita agar kita beribadah kepadanya. Sebagaimana tercantum juga dalam Surah Al An'am ayat 162 bahwa setiap apa yang kita kerjakan di dunia ini hanyalah untuk Allah Subhanahu wata'ala. Maka dengan memahami bahwa hakikat amal tujuannya kita persembahkan kepada Allah Subhanahu wata'ala maka harapannya kita juga berusaha untuk mempersembahkan amal-amal terbaik kita. Dan amal-amal terbaik di sisi Allah Subhanahu wata'ala adalah amal yang dilakukan dengan segera dengan tidak menunda-nunda.
  2. Dengan memahami urgensi status suatu amal. Jangan sampai kita memahami bahwa semua amal itu status hukumnya sama. Sehingga kita memukul rata dan berpikiran bahwa suatu amal boleh dilakukan atau boleh kita tinggalkan atau kita tunda pelaksanaannya karena tidak memahami status amal tersebut, misalkan amal tersebut ternyata adalah kewajiban. Di dalam Islam, status amal itu terikat dengan Al Ahkamul Khamsah, yaitu 5 hukum perbuatan manusia. Jadi perbuatan manusia itu ada yang wajib; ada pahala ketika mengerjakannya dan ada konsekuensi yang harus kita dapatkan ketika kita meninggalkannya. Ada yang sunnah; ada reward tambahan dari Allah ketika kita mengerjakannya. Dan dua amal tersebut tentu penuh kebaikan di dalamnya, ketika kita tunda, maka di situlah awal kita mendapatkan kerugian. Kita juga harus memahami bahwa ketika kita menunda suatu pekerjaan, sebenarnya kita sedang membebani diri kita sendiri di masa yang akan datang karena konsekuensi yang kita dapatkan adalah tertumpuknya amal-amal atau tugas-tugas kita.
  3. Terkait dengan poin ketiga yaitu ketidaktahuan kita atau kurangnya kemampuan kita dalam melaksanakan suatu amal bisa saja memunculkan rasa malas ketika kita ingin melakukannya. Maka ini berkaitan dengan edukasi dan peningkatan kemampuan. Maka yang harus kita lakukan adalah terus melakukan tholabul ilmi atau menuntut ilmu dan peningkatan penguasaan ilmu serta peningkatan skill atau kemampuan kita dalam mengerjakan suatu amal.
  4. Terkait poin keempat, yaitu ujian yang datang dalam kehidupan kita baik itu berupa sakit ataupun kondisi-kondisi eksternal dapat saja memunculkan rasa malas atau sikap menunda-nunda, maka solusinya adalah ujian tersebut harus segera diselesaikan bukan dihindari. Misalnya ternyata kita dalam kondisi sakit, maka kita harus segera mencari solusi, bisa dengan segera berobat, dan juga menciptakan kebiasaan gaya hidup yang lebih sehat untuk berusaha menghindari sakit itu datang kembali.

Terakhir, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam pun telah menuntun kita untuk selalu meminta kepada Allah Subhanahu wata'ala agar dihindarkan dari rasa malas dan sikap menunda-nunda.

...رَبِّ أَعُوذُبِكَ مِنَ الْكَسَلِ...

Artinya: ...Wahai Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan....

 

** Tulisan ini berdasarkan apa yang disampaikan oleh Ustadzah Dedeh Wahidah di Channel Youtube Muslimah Media Hub yang tayang pada tanggal 20 Mei 2024 dengan judul yang sama.