post-image

Peradaban Islam di Andalusia

Oleh : Muthi Hamsa, Mustawa Tsaani 2023.

Negeri Andalusia pada hari ini terletak di Spanyol dan Portugal, biasa dikenal sebagai Semenanjung Iberia. Semenanjung Andalusia dipisahkan dengan Maroko oleh sebuah selat semenjak era penaklukan islam dikenal sebagai selat Gibraltar, yang kemudian disepakati para geografis muslim bahwa Andalusia sebenarnya adalah kelanjutan dari Afrika.

Kondisi Eropa dan Andalusia yang dipimpin oleh Roderic hidup dalam masa-masa kebodohan dan keterbelakangan yang sangat luar biasa yang biasa disebut dengan masa kegelapan (dark age). Kedzaliman adalah sistem yang berlaku disana, para penguasa menguasai harta, sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan yang parah. Bahkan mereka diperjualbelikan bersama dengan tanahnya dan mereka mempunyai keyakinan yang sama dengan kaum Hindu dan Majusi. Seperti inilah kondisi Eropa dan Andalusia sebelum penaklukan islam.

Sebelum masa penaklukan islam, pada akhir abad ke-4 masehi bangsa Ghotic berhasil menguasai bagian barat dari imperium romawi. Ketika sang kaisar Romawi, Theodosius meninggal dunia pada tahun 395 M, maka suku Ghotic barat pun menjadi pemimpin terkuat dan mereka berusaha menguasai Roma (ibukota imperium Romawi) dan berhasil ditaklukkan pada tahun 410 M, pada masa ini imperium Romawi mengizinkan suku vandal (wandal) yang ganas itu tinggal di Semenanjung Iberia. Namun karena jumlah suku vandal banyak, dan mereka pun menguasai hampir seluruh bagian pulau bahkan mengancam negeri Ghalia (Perancis sekarang), lalu Athawuf melanjutkan posisi memimpin suku Ghotic Barat dan diangkatlah sebagai pemimpin seluruh suku vandal, dan Euric pun menggunakan gelar raja pada tahun 467 M dan dianggap sebagai pendiri negara Ghotic Barat sebenarnya. Dan bangsa Ghotic dapat dianggap sebagai salah satu negara Kerajaan terkuat hingga awal abad ke-6.

Penaklukan Andalusia terjadi pada tahun 92 H/711 M oleh Islam dan terjadi di masa kekhalifahan Umawiyyah, tepatnya pada masa Khalifah Al Walid bin Abdul Malik yang memimpin sejak tahun 86 H (705 M) hingga tahun 96 H (715 M). Pada waktu itu kaum Muslimin telah menyelesaikan penaklukan seluruh kawasan Afrika dibagian utara. Mereka berhasil menaklukkan Mesir, Libya, Tunisia, Al Jazair, dan Maroko. Tidak ada pilihan dihadapan mereka selain melanjutkan penaklukkannya tersebut kecuali dua jalan; mengarah ke utara menyebrangi selat Gibraltar dan masuk ke Spanyol dan Portugal. Keduanya adalah Andalusia saat itu atau mengarah ke Selatan masuk kedalam jantung sahara yang luas tapi penduduknya sangat sedikit. Tujuan penaklukan kaum Muslimin sama sekali bukan untuk mencari wilayah atau kawasan baru atau sekedar mencari daya bumi. Tujuan utama mereka berdakwah di jalan Allah dan mengajarkan Agama Islam kepada manusia. Pada saat itu Musa bin Nushair lah yang menjadi pemimpin atas penaklukan Afrika bagian utara yang mayoritas suku besarnya sebagai suku Amazig atau Barbar.

Ide untuk menaklukkan Andalusia adalah sebuah ide yang sudah lama, yang dimana saat Musa bin Nushair melihat buah hasil pekerjaannya yang sukses menaklukkan Afrika bagian utara. Ia pun berpikir untuk menaklukkan Andalusia dan ia bukanlah orang pertama yang berpikir untuk itu. Ide ini ada saat kekhalifahan Utsman bin ‘Affan, namun pada saat itu kaum Muslimin tidak berhasil sampai ke Andalusia. Musa bin Nushair pun ingin menaklukkan Andalusia, namun ada beberapa penghalang diantaranya; minimnya armada laut, adanya pulau Balyar milik kaum Nashrani di belakang mereka, adanya pelabuhan Sabtah yang berada dalam kekuasaan Kristen yang mempunyai hubungan dengan raja-raja Andalusia, minimnya jumlah kaum Muslimin, banyaknya jumlah kaum Kristen, letak geografis Andalusia dan posisinya tidak dikenal oleh kaum Muslimin. Namun Musha bin Nushair tidak menyerah, ia pun menyusun upaya untuk menghadapi berbagai halangan, diantaranya; pada tahun 87 atau 88 H Musa bin Nushair membangun beberapa pelabuhan dan menyiapkan beberapa armada laut, mengajarkan Islam kepada suku Berber, mengangkat Thariq bin Ziyad sebagai pemimpin pasukan, penaklukan kepulauan Balyar dan penggabungan kedalam wilayah kaum Muslimin.

Namun pelabuhan Sabtah tetap menjadi masalah yang belum terselesaikan yang dikuasai oleh tokoh Kristen yaitu Julian. Disinilah terjadi peristiwa Sabtah dan pertolongan Allah yang dimana Julian pun merasa bahwa bumi ini semakin sempit dan telah tersebar, juga kaum Muslimin yang semakin hari semakin kuat yang sudah banyak menaklukkan wilayah. Wilayah yang lain, dari sisi lainnya pula ternyata Julian sendiri menyimpan kedengkian yang sangat terhadap raja Andalusia yaitu Roderic. Julian mengetahui betul bahwa Roderic benar-benar sangat mendzalimi rakyat Andalusia. Atas pengaturan dan pertolongan Allah untuk kaum Muslimin, akhirnya Julian pun mengirimkan utusan untuk menemui Thariq bin Ziyad dengan tujuan melakukan negosiasi yang diantara mereka akan menyerahkan pelabuhan Sabtah kepada kaum Muslimin dan akan membantu kaum Muslimin dengan semua informasi terkait bumi Andalusia. Sebagai gantinya semua property bangunan dan tanah milik Witiza yang selama ini dirampas oleh Roderic menjadi hak milik mereka seutuhnya yang seharusnya menjadi milik keturunan mereka. Akhirnya Thariq bin Ziyad pun menyetujuinya.

Thariq bin Ziyad pun mengirimkan utusan untuk menemui Musa bin Nushair untuk menyampaikan kabarnya. Ketika Musa bin Nushair mendengar kabar tersebut ia pun bergembira, dan ia mengirimkan utusan untuk menemui Khalifah Umawiyah Al Walid bin Abdul Malik untuk menyampaikan kabar yang sama dan meminta izin untuk segera menaklukkan Andalusia. Saat Al Walid bin Abdul Malik memberikan izin namun ia mempersyaratkan satu hal, yaitu ia tidak boleh masuk setelah ia mengujicobanya dengan mengutus sebuah pasukan kecil kaum Muslimin, karena ia  tidak pernah tahu sejauh mana kebenaran informasi yang diberikan Julian, apakah Julian akan mengkhianati kesepakatannya atau tidak. Lalu Musa bin Nushair menyiapkan pasukan kecil terdiri dari 500 prajurit yang dipimpin oleh Tharif bin Malik. Ia pun tiba di Andalusia pada bulan Ramadhan 91 H (710 M) dan Tharif bin Malik menjalankan misinya dengan baik. Sepulangnya Tharif bin Malik, Musa bin Nushair telah melakukan persiapan pasukan selama 1 tahun lamanya dan berhasil mengumpulkan 7000 prajurit dan memulai misi penaklukan pada Andalusia.

Pada tahun 92 H bulan Sya’ban (Juni 711 M) bergeraklah pasukan yang terdiri dari 7000 prajurit itu dengan kepemimpinan Thariq bin Ziyad. Pasukan Islam bergerak dan menyebrangi selat yang di kemudian hari dikenal sebagai selat Jabal Thariq (Gibraltar) dengan menggunakan perahu-perahu, ketika menyebrangi selat tersebut ia berhenti di gunung. Hingga hari ini dalam Bahasa Spanyol pun dinamakan sebagai ‘Jabal Thariq’. Kemudian Thariq bin Ziyad berpindah ke kawasan yang bernama Jazirah Al Khadhra’ (Green Island) lalu ia berhadapan dengan pasukan Kristen. Namun Thariq bin Ziyad menawarkan kepada mereka untuk masuk Islam, yang dimana jika mereka menolak maka mereka harus membayar jizyah atau pilihan terakhir yaitu berperang. Namun pasukan Kristen memilih untuk berperang. Thariq bin Ziyad berhasil mengalahkan mereka. Panglima pasukan Kristen tersebut (Tedmore) mengirimkan surat yang berisi meminta bantuan kepada Roderic. Roderic mengabaikan dan meyakini bahwa itu tidak lebih dari sekedar sebuah penyerangan penyamun yang tidak lama akan menghilang. Namun ketika mendengar kabar bahwa kaum Muslimin maju menuju Cordova, Roderic pun menyiapkan kekuatan militernya yang dipimpin oleh Vinceu, keponakannya. Pertempuran tersebut terjadi didekat Jazirah Al Khadhra’. Namun pasukan Kristen selalu mengalami kekalahan dan sang panglima Vinceu tewas.

Setelah Roderic mendengar kabar kekalahan ia pun mengumpulkan 100.000 prajurit dibawah kepemimpinannya dan berangkat dari Utara menuju Selatan. Sementara itu pasukan Thariq bin Ziyad hanya 7000, lalu ia mengirimkan pesan kepada Musa bin Nushair untuk meminta bantuan, dan dikirimkannya Tharif bin Malik bersama prajuritnya sebanyak 5000 orang. Akhirnya jumlah pasukan Islam mencapai 12.000 prajurit. Thariq bin Ziyad mencari lokasi yang tepat untuk pertempuran di Lembah Lakka (Lacca). Menurut pandangannya sangat strategis, sisi kanannya berdiri gunung yang tinggi dan disisi kirinya terdapat sebuah danau. Dari kejauhan datanglah Roderic dengan mahkota emasnya dan prajuritnya 100.000 berkuda. Pada tanggal 28 Ramadhan 92 H (19 Juli 711 M) di Lembah Barbate (Lakka) terjadilah pertempuran yang paling sengit dalam Sejarah kaum Muslimin. Situasi berlangsung selama 8 hari lamanya yang kemudian berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin atas izin Allah dengan kepemimpinan Thariq bin Ziyad. Kaum Muslimin berhasil menorehkan sebuah peristiwa jihad monumental yang tidak pernah disaksikan oleh negeri-negeri Maghribi dan Andalusia sebelumnya. Adapun tentang Roderic, konon tewas terbunuh. Namun dalam riwayat lain mengatakan bahwa ia melarikan diri kearah utara. Hasil pertempuran tersebut menewaskan 3000 syuhada yang menyirami bumi Andalusia dengan darah mereka yang berharga. Suatu fakta kebenaran yang dibuktikan oleh perang ini yaitu kaum muslimin tidak dapat memenangkannya kecuali karena kekuatan Iman mereka.

 

*Referensi buku “Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, jejak kejayaan peradaban Islam di Spanyol” karya Dr. Raghib As Sirjani.